Seminar Semarak Sastra Nasional 2026, HMPS Bahasa dan Sastra Arab FAHUM UIN Banten Ajak Mahasiswa Mengasah Nalar dan Memaknai Kehidupan Melalui Sastra
- Rabu, 21 Oktober 2026
- Kegiatan HMPS
- Cetak

SERANG, 21 Oktober 2026 – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menyelenggarakan seminar dalam rangkaian kegiatan Semarak Sastra Nasional (SSN) Tahun 2026. Kegiatan ini menghadirkan Robi Sugara, S.Hum., M.A. sebagai narasumber yang mengajak mahasiswa memahami sastra bukan sekadar sebagai karya tulis, melainkan sebagai sarana mengembangkan daya nalar, memahami hakikat kehidupan, dan membangun kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Semarak Sastra Nasional 2026 yang berlangsung pada 19–21 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Literasi untuk Negeri, Hidupkan Rasa Budaya, Kenalkan Karya Lewat Sastra.” Melalui kegiatan ini, HMPS Bahasa dan Sastra Arab berupaya menghadirkan ruang diskusi akademik yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, serta meningkatkan apresiasi terhadap sastra sebagai bagian penting dari perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Manusia sebagai Karya Sastra Tuhan yang Paling Indah
Dalam pemaparannya, Robi Sugara menyampaikan pandangan filosofis mengenai hubungan antara manusia, sastra, dan penciptaan. Ia mengajak peserta untuk melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki keunikan, keindahan, dan kompleksitas yang tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan lahiriah.
“Manusia adalah karya sastra Tuhan yang paling indah dan tak ada tandingannya. Mengapa demikian? Karena Tuhan menciptakan sebuah makhluk yang bahkan dirinya sendiri kerap belum sepenuhnya memahami keberadaannya,” ungkap Robi Sugara.
Menurutnya, manusia memiliki kemampuan berpikir, merasakan, mempertanyakan, dan menafsirkan berbagai fenomena kehidupan. Kemampuan tersebut merupakan potensi yang perlu terus dikembangkan melalui proses pembelajaran, perenungan, dan penguatan literasi.
Ia menjelaskan bahwa sastra dapat menjadi sarana bagi manusia untuk memahami dirinya sendiri sekaligus mengenali hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan. Melalui sastra, seseorang tidak hanya belajar memahami keindahan bahasa, tetapi juga dilatih untuk menggali makna yang lebih mendalam dari setiap pengalaman kehidupan.
Sastra dan Al-Qur’an sebagai Ruang Pengembangan Daya Nalar
Robi Sugara juga menyoroti kedalaman bahasa Al-Qur’an yang memiliki keindahan dan kekayaan makna. Menurutnya, memahami Al-Qur’an memerlukan kesungguhan intelektual karena kandungan bahasanya memiliki dimensi yang luas dan mendalam.
Ia menegaskan bahwa sastra memiliki hubungan erat dengan kemampuan manusia dalam mengembangkan daya pikir dan kepekaan terhadap berbagai fenomena.
“Memahami Al-Qur’an pun bukanlah hal yang mudah, sebab keindahan dan kedalaman bahasa sastra di dalamnya begitu luar biasa. Melalui sastralah daya nalar kita diasah,” jelasnya.
Ia memberikan gambaran bahwa kemampuan berpikir kritis dapat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai kehidupan dan alam semesta, seperti alasan Allah menciptakan pohon serta tujuan yang terkandung di balik penciptaannya.
Pertanyaan semacam itu, menurutnya, menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk melakukan refleksi mendalam terhadap segala sesuatu yang berada di sekitarnya. Sastra menjadi salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan tersebut melalui penghayatan bahasa, pemaknaan simbol, serta penafsiran terhadap pengalaman manusia.
Dalam konteks kajian Bahasa dan Sastra Arab, pemahaman terhadap unsur kebahasaan, keindahan ungkapan, dan kedalaman makna memiliki relevansi penting dalam memperluas wawasan intelektual mahasiswa.
Sastra Tidak Terbatas pada Teks, tetapi Juga Pengalaman dan Sejarah
Lebih lanjut, Robi Sugara menjelaskan bahwa sastra tidak harus selalu dipahami sebagai tulisan yang tersusun dalam bentuk puisi, cerita pendek, novel, atau karya sastra lainnya.
Menurutnya, pengalaman hidup manusia dan perjalanan sejarah juga dapat menjadi sumber pemaknaan sastra karena mengandung berbagai peristiwa, nilai, dan pelajaran yang dapat direnungkan.
“Penting untuk diingat bahwa sastra tidak selalu berbentuk teks tulisan. Sastra juga dapat terwujud dalam bentuk pengalaman hidup maupun rekam sejarah seseorang. Dan sastra sejati tidak pernah mencelakakan; ia hadir untuk mencerahkan,” tuturnya.
Pandangan tersebut mengajak mahasiswa untuk memahami sastra secara lebih luas, yakni sebagai cara membaca kehidupan dan menafsirkan pengalaman manusia.
Melalui pemahaman ini, sastra tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi estetis, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter, penguatan empati, serta pengembangan kesadaran sosial.
Pentingnya Menghargai Diri dan Mengenali Potensi Manusia
Dalam kesempatan yang sama, Robi Sugara turut membahas persoalan rasa tidak percaya diri atau insecure yang kerap dialami generasi muda.
Ia mengajak peserta untuk menyadari bahwa setiap manusia memiliki nilai, kelebihan, dan potensi yang patut dihargai.
Menurutnya, rasa tidak percaya diri dapat muncul ketika seseorang terlalu berfokus pada kekurangan dirinya sehingga melupakan berbagai kemampuan dan keistimewaan yang telah dimiliki.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kesadaran diri, menghargai proses perkembangan pribadi, serta memandang kehidupan sebagai ruang pembelajaran yang terus berlangsung.
Pesan tersebut memiliki relevansi dengan kehidupan mahasiswa yang sedang berada dalam proses pembentukan identitas, pengembangan kompetensi, dan persiapan menghadapi tantangan masa depan.
HMPS Bahasa dan Sastra Arab Dorong Penguatan Literasi dan Budaya Akademik
Penyelenggaraan seminar dalam rangkaian Semarak Sastra Nasional 2026 menjadi salah satu bentuk kontribusi HMPS Bahasa dan Sastra Arab dalam memperkuat budaya literasi dan tradisi diskusi intelektual di lingkungan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa kajian sastra memiliki cakupan yang luas dan berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, agama, filsafat, sejarah, hingga persoalan sosial dan kemanusiaan.
Seminar ini juga sejalan dengan semangat tema SSN 2026, yaitu “Literasi untuk Negeri, Hidupkan Rasa Budaya, Kenalkan Karya Lewat Sastra,” yang menempatkan literasi sebagai sarana untuk membangun generasi muda yang berpengetahuan, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap kebudayaan.
Melalui pemaparan Robi Sugara, peserta memperoleh perspektif bahwa sastra bukan hanya tentang keindahan kata-kata, tetapi juga tentang kemampuan memahami diri, membaca realitas, dan menemukan makna dalam kehidupan.
Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab untuk semakin aktif membaca, berdiskusi, mengembangkan karya, serta memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman akademik sebagai bekal untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Semarak Sastra Nasional 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat eksistensi bahasa dan sastra Arab sebagai bidang keilmuan yang relevan, adaptif, dan memiliki peran penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan.



Saat ini belum ada komentar